Surat Mukhlas dan Imam Samudra, dari Grasi, Eksekusi hingga Tentara

Triono Wahyu Sudibyo – detikNews

Semarang – Menjelang eksekusi, terpidana bom Bali Mukhlas dan Imam Samudra sempat menulis surat. Isi surat itu terkait grasi, eksekusi hingga tentara.

Surat di lembaran kertas folio bergaris itu dibagikan TPM di Dermaga Wijayapura, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (20/8/2008). Mukhlas dan Imam menulis sendiri surat itu dengan menggunakan tinta warna hitam.

Berikut kutipan isi surat Mukhlas:

(1) GRASI. Kalau saya mohon grasi akan terjatuh pada empat dosa dan kesalahan.

a. Syirk (menyekutukan Allah) sebab presiden negara sekuler yang mengikut sistem (agama) demokrasi telah merampas hak-hak otoritas dan kedaulatan Allah dalam menciptakan dan menentukan hukum, maka kalau saya mohon grasi kepadanya dalam kasus jihad seperti yang saya lakukan, berarti saya mengakui ketuhanannya.

b. Haram, karena syirik hukumnya haram dilakukan bahkan termasuk haram dan dosa yang paling besar.

c. Dalam kehinaan, saya seorang mujahid di pihak yang benar karena membela agama Allah dan membela kaum muslimin, sedang presiden dalam hal ini bukan di pihak yang benar dan bukan di pihak Allah tapi di pihak thaghut (syaitan). Jadi kalau saya memohon kepada pihak yang tidak benar maka perbuatan saya tersebut lebih tidak benar lagi dan merupakan kehinaan.

d. Membantu kezaliman. Hukum yang dipakai untuk mengadili kasus saya (jihad) adalah hukum thaghut yang bertentangan dengan Alquran dan Assunah (hukum Allah bahkan yang lebih lucu lagi bertentangan dengan hukum positif thaghut yang sedang berlaku di negeri ini. Maka kalau saya mohon grasi berarti setuju dengan praktik hukum yang salah itu dan bermakna membantah telah membantu kezaliman yang wajib ditentang dan akan menjadi catatan hitam dalam sejarah.

(2) EKSEKUSI. Tanggapan saya tentang rencana eksekusi.

a. Mati syahid adalah cita-citaku, idamanku, dan dambaanku. Jadi kalau Allah Ta`ala menakdirkan diri saya dibunuh oleh orang-orang kafir termasuk orang-orang munafik dan orang-orang murtad dengan cara eksekusi berarti cita-citaku yang paling tinggi tercapai, Alhamdulillah.

b. Saya sebagai seorang muslim yang beraqidah salaf dan komitmen dengan syariat Allah, haram atas saya menyetujui eksekusi sebab eksekusi atau membunuh seorang muslim apalagi seorang mujahid dengan sengaja dan direncanakan tanpa kebenaran dari Allah adalah perbuatan kriminal dan dosa besar sekali. Seluruh yang terlibat mendapat kemurkaan dan kutukan Allah, dan dimasukkan ke dalam neraka jahanam selamanya. (QS An-Nisa (4): 93). Dan untuk hukum di dunia seluruh yang terlibat wajib diqishas, darah dengan darah, jiwa dengan jiwa.

Nusakambangan, Syaban 1429 H. Hamba Allah (ditandatangani, red.) Mukhlas @ (alias, red.) Ali Ghufron bin Nurhasyim.”

Sementara isi surat Imam Samudra adalah:

“Tentara itu cuma ada dua: 1. Tentara Allah 2. Tentara thaghut. (1). Tentara Allah= fikiran, perasaan, ucapan, dan perbuatannya hanya mendengarkan hukum Allah/Islam (Alquran dan As-sunnah), (2) Tentara thaghut= fikiran, perasaan, ucapan, dan perbuatan adalah bukan demi hukum Allah (Islam).

Maka kami adalah tentara Allah, karena jelas berjihad fie sabilillah, sedangkan mereka yang bekerja dan berjuang demi KUHP maka mereka adalah tentara thaghut (syaitan).

Mulai dari presiden, hakim, jaksa, dan polisi serta exekutor (eksekutor, red.) yang berencana mengeksekusi kami adalah tentara syaitan.”

Surat Imam tidak ditandatangani. Di akhir suratnya, Imam mengutip QS.An-Nisa (4):75 yang artinya, orang-orang beriman berperang di jalan Allah dan orang kafir berperang di jalan thaghut (syaitan).

(try/djo)


  1. wongcilik

    membunuh seorang muslim apalagi seorang mujahid dengan sengaja dan direncanakan tanpa kebenaran dari Allah adalah perbuatan kriminal dan dosa besar sekali. Seluruh yang terlibat mendapat kemurkaan dan kutukan Allah, dan dimasukkan ke dalam neraka jahanam selamanya.

    Tepat sekali. ada orang2 muslim yang juga jadi korban pemboman imam samudra dkk.. jadi selayaknya tempat bagi imam samudra dkk adalah di neraka

  2. al

    semoga para mujahid imam samudera, amrozi, ali gufron diberkahi ALLAH SWT

  3. warga muslim

    KELOMPOK KEDUA MEREKA YANG MENOLAK.

    Sebagian ulama ahli hadits kontemporer berpendapat tidak boleh mengorbankan
    diri sendiri (aksi bom syahid), dan mengkategorikannya pada tindakan bunuh
    diri. Berikut ini perkataan mereka beserta dalil-dalilnya.

    [1] Syaikh Nashiruddin Al-Bani rahimahullah : Ketika ditanya tentang aksi
    bom syahid beliau menjawab : Saya katakan boleh dan tidak boleh.

    Boleh, jika dibawah naungan pemerintah Islam, dalam jihad Islam yang
    berlandaskan hukum Islam.

    Hendaknya seorang tentara tidak bertindak berdasarkan kehendak sendiri, akan
    tetapi harus berdasarkan komando dari panglimanya. Jika demikian, maka itu
    merupakan bunuh diri (intihar) yang dibolehkan.

    Adapun seorang tentara atau bahkan rakyat sipil berangkat sendirian seperti
    yang lazim dilakukan sekarang, kemudian ia mengorbankan dirinya hanya demi
    membunuh dua, tiga atau empat orang, maka itu tidak boleh. Karena itu
    merupakan tindakan pribadi bukan atas perintah dari panglima perang (Amirul
    Jaisy).

    Bahkan ketika ditanya : apakah sekarang ada tentara Islam yang berperang di
    jalan Allah ?

    Al-Bani menjawab : Tidak, selama belum ada pemimpin maka itu tidak sah,
    sampai ada khalifah kemudian panglima yang memimpin berdasarkan perintah
    dari khalifah.

    Al-Bani menambahkan, mereka yang melakukan aksi bom bunuh diri, Allah Maha
    mengetahui aqidah mereka, Allah Maha mengetahui ibadah mereka, mungkin saja
    di antara mereka ada yang tidak mendirikan shalat, atau bahkan di antara
    mereka ada orang komunis.
    [Lihat : Al-Tikrawi, Hail. al-Amaliyyat al-Istisyhadiyyah fi Mizan al-Fiqhi
    : 83-85]

    [2] Syaikh Shalih Al-Utsaimin rahimahullah : Beliau berpendapat tidak boleh.
    Ketika ditanya mengenai seorang yang memasang bom di badannya kemudian
    meledakkan dirinya di tengah kerumunan orang kafir untuk melemahkan mereka,
    apakah benar jika berdalil dengan kisah seorang anak yang menyuruh raja
    untuk membunuhnya ?

    Beliau menjawab : Orang yang memasang bom pada badannya demi untuk
    meledakkannya di tengah-tengah musuh Islam, sama dengan bunuh diri. Dan di
    akhirat akan diazab dalam neraka jahannam dengan cara yang sama secara kekal
    abadi. Sebagaimana hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mereka
    yang membunuh dirinya, ia akan disiksa dengan cara yang sama di dalam neraka
    jahanam.

    Aneh sekali mereka yang melakukan tindakan tersebut, padahal mereka membaca
    firman Allah.

    “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha
    Penyayang kepadamu” [An-Nisa 29]. Kemudian ketika mereka melakukan tindakan
    tersebut, apakah itu menghasilkan sesuatu ? apakah bisa mengalahkan musuh ?
    atau bahkan menambah kejamnya musuh terhadap mereka yang meletakkan alat
    peledak, seperti yang kita saksikan sekarang di negara Yahudi. Kenyataannya
    tindakan tersebut hanya menambah kuat dan kejamnya mereka, bahkan poling
    (istifat) terkahir di negara Yahudi menyatakan adanya keberhasilan kaum
    ekstrimis kanan yang hendak menghabiskan bangsa Arab. Akan tetapi ironisnya,
    yang melakukan misi tersebut adalah mereka yang berjihad dengan salah dan
    menyangka dirinya mendekatkan diri pada Allah. Mudah-mudahan Allah
    mengampuni mereka. karena mereka adalah para pentakwil yang bodoh.

    Adapun berdalil dengan kisah anak (Ashabul Ukhdud), kejadian tersebut
    berdampak pada masuk Islamnya orang-orang saat itu, bukan untuk melemahkan
    musuh. Yaitu ketika sang raja mengambil anak panah milik sang anak kemudian
    mengarahkannya pada anak tersebut dan mengatakan : “Demi Allah, Tuhan anak
    ini” seketika itu orang-orang menjerit dan mengatakan Tuhan yang sebenarnya
    adalah Tuhan anak itu. Maka terjadilah masuk Islamnya sebuah bangsa yang
    besar.

    Kalaulah yang terjadi sekarang sama dengan yang terjadi dalam kisah
    tersebut, maka bolehlah berdalil dengan kisah ini. Dan Nabi-pun mengisahkan
    kepada kita supaya kita mengambil pelajaran darinya. Akan tetapi mereka yang
    meletakkan bom pada badannya untuk membunuh sepuluh atau seratus orang
    musuh, tindakan tersebut hanya menambah kemarahan musuh dan mereka semakin
    beringas.

  4. abuizza

    pilih islam apa demokrasi(thaghut) ?

    karena islam sekarang sudah dilecehkan, dan para mujahid dianggap teroris
    siapakah yang membela islam kalau bukan para mujahid2,

  5. salam

    Mungkin ijtihad itu yang dia (Imam samudra cs) pilih sebagai jalan jihadnya, selanjutnya tsumma inna ilaina hisabahum (kembali kepada Allah SWT yang berhak menghisabnya)saya hanya berdo’a semoga Allah aza wajala memberikan ampunan baginya.tapi yang jelas cuma dengan trio mujahid ini terbukti Amerika dan antek anteknya kalang kabut

  6. fadila

    sebaiknya jangan dieksekusi, orang – orang seperti beliau harusnya dipertahankan untuk menjadi guru-guru ngaji karena banyak umat islam perlu orang-orang seperti imam samudera, muklas dan amrozi,

  7. fadila

    yang dieksekusi yang banyak dosa, dan yang korupsi besar-besar saja,




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: